Poto barat pemerkosaan pemaksaan sambil bucat domican republic dating

Begitu pula di negara-negara Barat dan non-Muslim pada umumnya.Negara-negara seperti Swedia, Norwegia, dan Denmark yang belakangan menunjukkan eskalasi peristiwa perkosaan, ternyata para pelaku kasus perkosaan tersebut diduga kaum Muslim migran dari Timur Tengah yang memang belakangan membanjiri Eropa lantaran konflik dan kekerasan yang tak kunjung usai di kawasan ini.

poto barat pemerkosaan pemaksaan sambil bucat-89

Data dari The Woman Stats Project juga menunjukkan bahwa negara-negara yang selama ini dikenal sangat ketat dalam memberlakukan aturan syariat Islam, termasuk aturan tentang tata-busana bagi kaum perempuan, bahkan memiliki prosentase yang sangat tinggi dalam kasus-kasus perkosaan sebut saja Afganistan, Mesir, Suriah, Sudan, Pakistan, Arab Saudi, dan sebagainya.

Hijab, jilbab, abaya, burqa, chador atau apapun nama “busana syariat” perempuan ternyata tidak mampu untuk membendung nafsu birahi laki-laki bejat hidung belang.

Jangankan di negara-negara lain, di Arab Saudi sendiri, negara yang dikenal sangat konservatif dan superketat dalam pengaturan tentang busana perempuan, juga pernah terjadi kasus heboh “perkosaan massa” pada tahun 2006, dimana seorang perempuan Saudi diperkosa ramai-ramai oleh tujuh laki-laki Saudi.

Peristiwa heboh yang populer dengan sebutan “Kasus Perkosaan Qatif” ini berakhir pada hukuman cambuk dan penjara bagi para pemerkosa.

Dengan kata lain, jika “daging perempuan” itu ditutup rapat secara syariat, maka laki-laki tidak akan menjamahnya.

Bahkan sejumlah kalangan “Islam ekstrim” memandang perempuan tak berhijab, tubuhnya halal untuk dijamah, digerayangi, dan diperkosa.

Penulis: Sumanto al Qurtuby Staf Pengajar Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, dan Visiting Senior Research Fellow di Middle East Institute, National University of Singapore @squrtuby *Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Hukum Jerman memperkuat perlindungan terhadap korban pelecehan seksual dan perkosaan.

Pada tahun 2008, Egyptian Center for Women's Rights mengadakan survei nasional tentang perkosaan dan pelecehan seksual, dan hasilnya sangat mengejutkan: lebih dari 83% perempuan di Mesir mengaku pernah mengalami pelecehan seksual.

Bahkan data dari United Nations Entity for Gender Equality tahun 2013 menyebut lebih dari 90% perempuan di Mesir mengalami berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual.

Faktanya tidak demikian Sebuah penelitian dan survei yang dilakukan oleh The Woman Stats Project misalnya menunjukkan data dan fakta menarik.

Tags: , ,